Sistem adalah kumpulan elemen/komponen yang saling berinteraksi satu sama lain. Karakteristik sistem adalah adanya emergent properties di dalamnya. Dimana emergent properties ini merupakan karakteristik yang muncul karena sinergi antar elemen. Sederhananya, emergent properties pada sistem dapat diterangkan dengan gambar berikut,
Pada gambar di atas, orang buta pertama berkata, ‘gajah adalah suatu benda yang panjang dan bulat’
Orang buta kedua berkata, ‘gajah adalah suatu benda yang keras seperti tembok’
Sedang yang ketiga berkata, ‘gajah adalah benda yang lentur seperti ular’,dsb
Semua itu tidak salah, tentu. Orang pertama memegang belalai gajah, dan dia mendeskripsikannya dengan benar. Orang kedua memegang badan gajah, ia pun benar, karena pada kenyataannya badan gajah memang keras seperti tembok. Sedang orang ketiga memegang ekor gajah, dsb.
Semua benar. Namun mereka salah secara sistem. Gajah merupakan sebuah emergent properties yang dihasilkan dari sinergi antar elemennya, yaitu belalai, badan, dan ekor. Sifat yang muncul (gajah), tidak akan muncul ketika yang ada hanya belalai saja, atau badannya saja, atau gadingnya saja. Sinergi ketiga elemen tersebutlah yang pada akhirnya membentuk gajah secara utuh.
Contoh lain. Molekul H2O akan membentuk satu emergent properties, yaitu air. Padahal dalam keadaan terpisah, hydrogen dan oksigen sifatnya gas dan mudah terbakar. Sifat tersebut sangat berbeda dengan emergent properties yang dihasilkan, yaitu air yang menyejukkan.
Oleh karena itulah sifat yang muncul dari sistem merupakan sifat yang unik. Ia bukanlah gabungan dari sifat perorangan. Namun sifat yang muncul akibat adanya sinergi.
Sinergi dan kerja sama, apa bedanya?
Sinergi adalah kolaborasi antara kelebihan. Sinergi menjadikan lidi yang lemah menjadi kuat ; sinergi menjadikan input dua potensi yang berbeda menghasilkan output 1000, bukan dua!
Bahwa 1 + 1 = 2, merupakan kerja sama. Namun sinergi, lebih daripada itu, 1 + 1 bisa jadi bukan 2. Bisa 3, 4, 5, atau 1000! Sinergi menjadikan kekuatan perorangan berubah menjadi kekuatan komunal. Di sanalah letak kekuatannya. Tidak peduli, seberapa besar seseorang itu punya kekurangan. Yang kita tahu, bahwa ia pasti punya kelebihan. Seperti perkataan seorang teman,
“Seseorang yang tidak mempunyai kekurangan yang menonjol, pastilah pula tidak mempunyai kelebihan yang menonjol”
“Bahwa saya tidak sempurna, saya tidak peduli. Yang saya pedulikan adalah berbuat sebaik yang saya bisa”
Figuritas Perseorangan dalam Sistem
Karakteristik dari sistem, adalah ia dapat dipakai oleh siapapun. Selain itu, sebuah sistem harus reuseable. Ia dapat dipakai lagi, lagi, dan lagi. Sistem yang sudah baku/dibakukan, membuat kita- sang empunya ide, tak perlu jadi pekerja. Cukup membuat sistem, bakukan, dan biarkan sistem itu bekerja dengan sendirinya. Dengan atau tanpa kita, sebuah sistem yang sudah baku akan terus berjalan.
Beda halnya ketika sistem belum terbentuk. Hal inilah yang membuat figuritas perseorangan sangat menonjol. Akhirnya apa? Kebergantungan pada figur akan semakin besar. -Ga Ada Loe Ga Jalan (GAL- GJ)-. Simpelnya sih begitu. Jenis kondisi inilah yang membuat distribusi beban pikiran hanya berpusat pada titik-titik tertentu saja. Dan ini -sangat-tidak-sehat bagi perkembangan sebuah organisasi. Bergantung pada makhluk sangatlah membuat lelah dan kontra produktif. Effort pemikiran yang semestinya dicurahkan untuk perbaikan, justeru dihabiskan memorinya untuk mengurusi hal tersebut.
Oke, kembali lagi—Disinilah sistem berperan
Kerangka Berpikir Kesisteman : Traditional thinking vs System thinking
Salah satu ciri traditional thinking adalah membagi-bagi pekerjaan dan menyelesaikannya dari tempat yang terpisah. Penggambarannya sbb,
Namun, solusi yang dihasilkan tidak akan pernah optimal karena masing-masing elemen tak ada koordinasi. Semua bekerja sesuai keinginannya masing-masing. Satu ke utara, satu ke selatan, satu ke barat, dan satu lagi ke timur. Resultannya jadi NOL! Tak berbekas.
Beda halnya dalam kerangka kesisteman, yang dapat dilihat melalui gambar berikut,
Penyelesaian masalah secara sistematis, membutuhkan perenungan khusus tentang apa yang menjadi core masalahnya. Perbaikan secara teknis, mungkin berguna. Tapi tak akan bertahan lama hingga terbentuknya sistem yang ajeg.
Kala Kebaikan tak Bersistem
Kebaikan/ tindak pembaharuan menuju sebuah kemaslahatan tidak akan bertahan lama tanpa adanya sistem. Mungkin saja dalam masa ini, sang pemimpin mampu menciptakan prestasi, namun belum tentu sistem. Sistem yang baik, akan mampu dipakai oleh para penerusnya, lagi, lagi, dan lagi. Layaknya Islam yang diajarkan Rasulullah, karena sifatnya adalah sistem, maka dapat dipakai oleh para Sahabat, tabiut, dan tabi’in hingga kita pada hari ini.
Kala kebaikan tak bersistem, maka kita akan menemukan kembali kisah-kisah nostalgia masa lalu. Dimana yang kan kita dengarkan adalah cerita bagaimana para pendahulu kita berhasil melakukan ini dan itu. Bagaimana mereka sukses merancang ini dan itu. Banyak-namun sayangnya tak bersistem. Figuritas!
Dengan tuntutan regenerasi, kerangka kesisteman dalam merancang kebaikan perlu diupayakan. Walaupun harus tertatih, bahkan merangkak. Karena itulah yang akan membuat kebaikan dapat terduplikasi, lagi, lagi, dan lagi.
Oke. begitu saja yang saya pahami, semoga dengan ditulisnya tulisan ini bisa memacu saya (terlebih dahulu) dan pembaca untuk berpikir secara sistemik.
Karena kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan terkalahkan oleh keburukan yang terorganisir.
Wallahu a’lam bisshowab.
‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tidak ada sekutu bagiNya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri
Inilah Aku. Dan Kamu.. siapa Kamu?’
khansa khairunisaa



