khansa khairunisaa
Emergent Properties pada Sistem

Sistem adalah kumpulan elemen/komponen yang saling berinteraksi satu sama lain. Karakteristik sistem adalah adanya emergent properties di dalamnya. Dimana emergent properties ini merupakan karakteristik yang muncul karena sinergi antar elemen. Sederhananya, emergent properties pada sistem dapat diterangkan dengan gambar berikut,


Pada gambar di atas, orang buta pertama berkata, ‘gajah adalah suatu benda yang panjang dan bulat’

Orang buta kedua berkata, ‘gajah adalah suatu benda yang keras seperti tembok’

Sedang yang ketiga berkata, ‘gajah adalah benda yang lentur seperti ular’,dsb

Semua itu tidak salah, tentu. Orang pertama memegang belalai gajah, dan dia mendeskripsikannya dengan benar. Orang kedua memegang badan gajah, ia pun benar, karena pada kenyataannya badan gajah memang keras seperti tembok. Sedang orang ketiga memegang ekor gajah, dsb.

Semua benar. Namun mereka salah secara sistem. Gajah merupakan sebuah emergent properties yang dihasilkan dari sinergi antar elemennya, yaitu belalai, badan, dan ekor. Sifat yang muncul (gajah), tidak akan muncul ketika yang ada hanya belalai saja, atau badannya saja, atau gadingnya saja. Sinergi ketiga elemen tersebutlah yang pada akhirnya membentuk gajah secara utuh.

Contoh lain. Molekul H2O akan membentuk satu emergent properties, yaitu air. Padahal dalam keadaan terpisah, hydrogen dan oksigen sifatnya gas dan mudah terbakar. Sifat tersebut sangat berbeda dengan emergent properties yang dihasilkan, yaitu air yang menyejukkan.

Oleh karena itulah sifat yang muncul dari sistem merupakan sifat yang unik. Ia bukanlah gabungan dari sifat perorangan. Namun sifat yang muncul akibat adanya sinergi.

Sinergi dan kerja sama, apa bedanya?

Sinergi adalah kolaborasi antara kelebihan. Sinergi menjadikan lidi yang lemah menjadi kuat ; sinergi menjadikan input dua potensi yang berbeda menghasilkan output 1000, bukan dua!

Bahwa 1 + 1 = 2, merupakan kerja sama. Namun sinergi, lebih daripada itu, 1 + 1 bisa jadi bukan 2. Bisa 3, 4, 5, atau 1000! Sinergi menjadikan kekuatan perorangan berubah menjadi kekuatan komunal. Di sanalah letak kekuatannya. Tidak peduli, seberapa besar seseorang itu punya kekurangan. Yang kita tahu, bahwa ia pasti punya kelebihan. Seperti perkataan seorang teman,

“Seseorang yang tidak mempunyai kekurangan yang menonjol, pastilah pula tidak mempunyai kelebihan yang menonjol”

“Bahwa saya tidak sempurna, saya tidak peduli. Yang saya pedulikan adalah berbuat sebaik yang saya bisa”

Figuritas Perseorangan dalam Sistem

Karakteristik dari sistem, adalah ia dapat dipakai oleh siapapun. Selain itu, sebuah sistem harus reuseable. Ia dapat dipakai lagi, lagi, dan lagi. Sistem yang sudah baku/dibakukan, membuat kita- sang empunya ide, tak perlu jadi pekerja. Cukup membuat sistem, bakukan, dan biarkan sistem itu bekerja dengan sendirinya. Dengan atau tanpa kita, sebuah sistem yang sudah baku akan terus berjalan.

Beda halnya ketika sistem belum terbentuk. Hal inilah yang membuat figuritas perseorangan sangat menonjol. Akhirnya apa? Kebergantungan pada figur akan semakin besar. -Ga Ada Loe Ga Jalan (GAL- GJ)-. Simpelnya sih begitu. Jenis kondisi inilah yang membuat distribusi beban pikiran hanya berpusat pada titik-titik tertentu saja. Dan ini -sangat-tidak-sehat bagi perkembangan sebuah organisasi. Bergantung pada makhluk sangatlah membuat lelah dan kontra produktif. Effort pemikiran yang semestinya dicurahkan untuk perbaikan, justeru dihabiskan memorinya untuk mengurusi hal tersebut.

Oke, kembali lagi—Disinilah sistem berperan

Kerangka Berpikir Kesisteman : Traditional thinking vs System thinking

Salah satu ciri traditional thinking adalah membagi-bagi pekerjaan dan menyelesaikannya dari tempat yang terpisah. Penggambarannya sbb,

Namun, solusi yang dihasilkan tidak akan pernah optimal karena masing-masing elemen tak ada koordinasi. Semua bekerja sesuai keinginannya masing-masing. Satu ke utara, satu ke selatan, satu ke barat, dan satu lagi ke timur. Resultannya jadi NOL! Tak berbekas.

Beda halnya dalam kerangka kesisteman, yang dapat dilihat melalui gambar berikut,

Penyelesaian masalah secara sistematis, membutuhkan perenungan khusus tentang apa yang menjadi core masalahnya. Perbaikan secara teknis, mungkin berguna. Tapi tak akan bertahan lama hingga terbentuknya sistem yang ajeg.

Kala Kebaikan tak Bersistem

Kebaikan/ tindak pembaharuan menuju sebuah kemaslahatan tidak akan bertahan lama tanpa adanya sistem. Mungkin saja dalam masa ini, sang pemimpin mampu menciptakan prestasi, namun belum tentu sistem. Sistem yang baik, akan mampu dipakai oleh para penerusnya, lagi, lagi, dan lagi. Layaknya Islam yang diajarkan Rasulullah, karena sifatnya adalah sistem, maka dapat dipakai oleh para Sahabat, tabiut, dan tabi’in hingga kita pada hari ini.

Kala kebaikan tak bersistem, maka kita akan menemukan kembali kisah-kisah nostalgia masa lalu. Dimana yang kan kita dengarkan adalah cerita bagaimana para pendahulu kita berhasil melakukan ini dan itu. Bagaimana mereka sukses merancang ini dan itu. Banyak-namun sayangnya tak bersistem. Figuritas!

Dengan tuntutan regenerasi, kerangka kesisteman dalam merancang kebaikan perlu diupayakan. Walaupun harus tertatih, bahkan merangkak. Karena itulah yang akan membuat kebaikan dapat terduplikasi, lagi, lagi, dan lagi.

Oke. begitu saja yang saya pahami, semoga dengan ditulisnya tulisan ini bisa memacu saya (terlebih dahulu) dan pembaca untuk berpikir secara sistemik.

Karena kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan terkalahkan oleh keburukan yang terorganisir.

Wallahu a’lam bisshowab.

‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tidak ada sekutu bagiNya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri

Inilah Aku. Dan Kamu.. siapa Kamu?’


khansa khairunisaa

khansa khairunisaa

Apresiasi merupakan bentuk abstrak dari keinginan manusia. Ia merupakan bagian penting yang menyebabkan keberadaan jiwa seseorang. Tak dapat dipungkiri bahwa kaitan antara merasa diapresiasi dan keterikatan hati, sangatlah erat. Seseorang bisa berada di suatu tempat, namun jiwanya melayang entah kemana. Namun bisa berada nun jauh di sana namun jiwanya begitu dekat.

Kecenderungan manusia, untuk merasa nyaman di sebuah tempat yang mengapresiasi mereka. Dimana mereka merasa dimanusiakan sebagai manusia, merasa keringatnya terbayar. Entah karena pengakuan orang lain atas kerjanya, karena merasa dibutuhkan, ataukah karena perasaan heroik karena telah mengusahakan yang terbaik dari dirinya. Entah, manusia memang kompleks. Namun yang pasti, tak selamanya perasaan tersebut dapat terbahasakan dengan sebuah kata. Tak kan ada yang mengerti percis apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan, apa yang ia inginkan, apa yang ia khawatirkan, kecuali dirinya sendiri.

Betapa manusia itu benar-benar kompleks. Bahwa suatu hal yang baik, belum tentu baik pada waktunya. Stokastik! sesuai dengan keadaan dan waktu. Bahwa ia hanya ingin diperlakukan sesuai dengan keadaannya pada saat itu. Kadang, perlakuan yang baik-secara berlebihan pun ditolak. Mengapa? Karena memang bukan itu yang diharapkannya. Ia hanya ingin diperlakukan wajar; sebagai seorang manusia yang kadang pernah lemah, kadang pernah luka, kadang pernah lupa, kadang pernah bingung, panik, dan kecewa. Itu saja. Dan perasaan itulah yang membuatnya merasa diapresiasi (sebagai seorang manusia). Sayangnya, cara meng-apresiasi pun berbeda. Ada seseorang yang mengapresiasi dengan cara mengatakan langsung, namun ada pula yang malah justeru memberikan tantangan (baca: menjatuhkan mental). Hhmm, kembali lagi, manusia memang kompleks.

Kurangnya apresiasi, sangat erat kaitannya dengan kekecewaan. Yah, namanya juga manusia. Hingga perasaan itu membuncah, dan manusia ini kan menjauh, lari, dan pergi. Tak ada yang bisa membuatnya kembali, melainkan perasaannya yang membaik. Namun, siapa yang harus mengapresiasi sebenarnya? Sedang tiap orang merasa lebih membutuhkannya dibanding yang lain.

Kurangnya empati terhadap apa yang orang lain alami bisa jadi muncul karena masing-masing pribadi merasa menjadi korban keadaan. Merasa bahwa sebenarnya dirinyalah yang semestinya lebih dahulu diapresiasi dan didengarkan keluhannya. Bahwa dirinyalah yang ter-berat bebannya. Wajar! Hampir kebanyakan orang adalah AKU-minded. Inilah AKU, terimalah AKU, pahami AKU, mengertilah perasaanKU. Dan AKU-AKU lainnya. Wajar! Itulah kompleksnya manusia. Dan dikala semua orang berkata AKU, lalu siapa yang akan memahami ‘AKU’ ? hmm. Lagi-lagi, manusia memang kompleks.

Berpikir tentang AKU. Takkan ada habisnya.

Lalu, apa yang semestinya kita lakukan ?

Ayo, belajarlah mengapresiasi diri sendiri !

Pahami dirimu, lebih daripada siapapun. Tak akan pernah seorang hamba mengenal Tuhannya dengan baik, sebelum dia memahami dirinya sendiri..

Mengapa? Saat ia tak bisa memahami kebesaran Sang Pencipta dalam dirinya sendiri, bagaimana ia kan melihat dari tempat lain?

Sedang bukti rahmatNya begitu dekat, yaitu Dia berikan ruh, jasad, dan akal..

Tak perlu kecewa jika tak ada yang acuh.. tak apa, cukuplah Allah sebagai pembela.

Berikan apresiasi yang terbaik kepada orang lain, namun tak perlu harapkan balasan apresiasi itu.

Hingga semua orang tak pernah berpikir tuk kecewa karena kurangnya apresiasi, ketika semuanya sibuk memberi--

khansa khairunisaa

selalu ada alasan untuk gagal
namun, ada 1000 alasan untuk bangkit
tapakkan kakimu dalam lembar sejarah!

bangkitlah!

harapan itu masih ada

dan Allah kan sesuai dengan prasangka hambaNya
doa
khansa khairunisaa

Carilah tempat itu.
Dimana saja kau bisa mencari,
sesuatu yang kau ingin.
Carilah tempat itu.
Dimana kan kau temukan jawaban dari manusia,
atas segala inginmu.
Namun kau takkan mampu sampai.
Karena memang tak ada.
Tak ada, sampai kau kan mengerti.

Cukup Allah saja bagimu.

Ya Rabb.
ingin kuingat engkau
saat senang dan sedih.
saat lapang dan sempit.
saat harap atau cemas.

kini kupasrahkan padamu untuk Kau selesaikan.

khansa khairunisaa

khansa khairunisaa
Krisis, dalam suatu negara hanyalah sebuah bagian dari ritme melodi perjalanannya,
namun krisis kepahlawanan, tak boleh menjadi suatu pemakluman

(inspired from Anis Mata, Mencari Pahlawan Indonesia)

Dua puluh oktober,
pena sejarah digoreskan kembali pada kitabnya.
sumpah dibacakan, dan status disahkan.
klimaks/antiklimaks sebuah perhelatan panjang dari kampanye, surat-suara, dan wara-wiri kecurangan pemilu.

Mahasiswa-mahasiswa berjas warna-warni datang.
bumi bergetar oleh orasi dan derap langkah kaki-kaki itu.
disempurnakan dengan ikat kepala dan tangan mengepal menyuarakan aspirasi.
Kami, mahasiswa akan mengawal pemerintahan Pemerintahan Presiden terpilih!
itu suaranya.

Nun jauh di sana, derap langkah yang sama menderu.
namun, bukan kaki-kaki mahasiswa pelakunya.
hanya warga-warga yang geram tak puas akan datangnya hari ini.
Neolib!
itu yang mereka teriakkan.

Mbok Bariyem, tukang jamu itu hanya termenung menyaksikan ini dari televisi mini ringseknya.
Ia tak tau, mengapa Presiden mesti dikawal segala,
toh pengawalnya kan sudah banyak..
Ia juga tak tau,
neolib itu makhluk apa..?
Yang ia tau,
Duh...Mbok mah cuma kepengin pemimpin yang jujur..
Yang takut ka Gusti ALLOH..